Sub-proyek penelitian ini bertolak dari premis bahwa penelitian komparatif mengenai perang dekolonisasi adalah sangat penting guna memahami dengan lebih baik motif penggunaan kekerasan selama perang kemerdekaan di Indonesia. Untuk tujuan proyek ini, satu tim pakar asing terpilih akan diundang untuk menjadi bagian dari proyek ini.

Selama lima belas tahun terakhir, sejak pecahnya perang di Afghanistan dan Irak, penelitian terhadap pemberontakan bersenjata (penumpasan pemberontakan) telah berkembang dengan pesat. Baik para sejarawan maupun para pakar teori militer mulai mengkaji pengalaman gelombang perang dekolonisasi. Konflik di Malaysia (1948-1960) dan Aljazair (1954-1962) adalah dua kasus yang mendapat banyak perhatian. Perang-perang lainnya pun secara rutin dikaji. Akan tetapi, pengalaman Belanda-Indonesia masih kurang terwakili dalam penelitian internasional tentang penumpasan pemberontakan dan dekolonisasi. Baru belakangan ini saja perang di Indonesia mendapat lebih banyak perhatian (lihat, misalnya, karya Luttikhuis dan Moses, De Moor, Brocades Zaalberg dan Scagliola), yang membuat penelitian perbandingan menjadi lebih mudah.

Tentunya masih banyak yang dapat dipelajari dari perbandingan sistematis dengan mengutamakan perang kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini, proyek ini dapat memberikan pemahaman tentang skala kekerasan dan cara penerapannya, maupun motif-motif yang melatarbelakanginya dan kondisi-kondisi di mana kekerasan tersebut dapat terjadi. Dengan mempelajari kekerasan kolonial Belanda dalam konteks komparatif, penelitian ini akan meruntuhkan pendapat umum bahwa Belanda adalah penjajah yang lebih damai daripada penjajah lainnya, dan bahwa bangsa Belanda memiliki tradisi anti-militeris yang panjang. Proyek ini tentu saja tidak dimaksudkan untuk mengarah kepada penulisan sejarah panjang penumpasan pemberontakan kolonial. Namun, proyek ini akan memberikan sumbangan pada kerangka analisis baik untuk sintesis program maupun untuk sub-proyek lainnya dalam program penelitian.

Untuk tujuan ini, perang kemerdekaan Indonesia akan dibandingkan secara rinci dengan sejumlah kasus lain yang memiliki karakteristik serupa, seperti yang disebut dengan Malayan Emergency (1948-1960), perang di Indocina (1945-1954), perang kemerdekaan Aljazair (1954-1962) dan pendudukan Hindia-Belanda oleh Inggris (1945-1946), serta beragam konflik dekolonisasi dan perang sipil lainnya. Para pakar asing akan dilibatkan untuk menjelaskan kasus Indonesia dan menilai secara rinci pada aspek apa saja konflik Belanda-Indonesia tersebut memiliki keunikan tersendiri. Para pakar tersebut diseleksi antara lain berdasarkan keahlian empiris mereka dalam salah satu kasus di atas, dikombinasikan dengan pengalaman mereka dalam penelitian yang lebih umum mengenai perang (sipil), dekolonisasi, dan kekerasan ekstrem. Para pakar tersebut akan diminta untuk memperbaharui perspektif mereka dengan mempertimbangkan pendapat-pendapat dari pakar lainnya yang diperoleh melalui beragam seminar dan konferensi. Lalu, para pakar tersebut mengidentifikasi aspek-aspek yang masih terabaikan sehingga dapat ditemukan konteks yang melatari penggunaan kekerasan tersebut. Studi banding ini akan dilakukan dengan membentuk kelompok penelitian internasional di Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Sciences, Amsterdam (NIAS-KNAW).

Kelompok penelitian itu dikoordinasi oleh Thijs Brocades Zaalberg, bekerja sama dengan Bart Luttikhuis, dan dengan kontribusi intensif dari para peneliti subproyek-subproyek program penelitian ini. Nama-nama ahli asing akan diumumkan nanti.