Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950 merupakan sebuah program penelitian bersama dalam skala besar antara Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV, Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara), Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH, Institut Belanda untuk Sejarah Militer), dan Instituut voor Oorlogs-, Holocaust- en Genocidestudies (NIOD, Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Perang, Holocaust, dan Genosida). Program tersebut akan berlangsung sampai dengan 1 September 2021. Baca lebih lanjut ›
20-05-2019

Conference 'Comparing the wars of decolonization: Extreme violence during reoccupation and counter-insurgency,
1945-1975'
 Thursday 20 June 2019 Amsterdam Public Library (OBA)

Agenda
05-03-2019

Memori hadir dalam beragam jenis dan ukuran. Begitu pula dengan ingatan tentang Hindia Belanda – kini Indonesia. Ingatan-ingatan itu dipoles tidak hanya dengan warna terang, dan cerah. Elsbeth Locher-Scholten – mantan dosen di Universitas Utrecht dan pakar sejarah kolonialisme dan dekolonisasi – menulis sebuah kolom tentang kekerasan kolonial dan ingatan kolonial untuk proyek penelitian Saksi dan Rekan Sezaman, bagian dari tulisannya merujuk kepada perbincangan tentang buku yang ditulis oleh Kester Freriks, Tempo Doeloe, een omhelzing (Tempo Doeloe, sebuah pelukan).

Blog
26-02-2019

Bagaimana cara mengenali ketidakadilan kolonialisme? Anne van Mourik mewawancarai sejarawan Nicole Immler, yang artikelnya pernah terbit di jurnal BMGN. Pada 2011, pengadilan di Den Haag memutuskan bahwa negara Belanda bersalah atas pembantaian massal yang terjadi di Rawagede (sekarang Balongsari) Jawa Barat di tahun 1947 yang dilakukan oleh serdadu Belanda dalam kurun waktu Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Putusan pengadilan juga mewajibkan Pemerintah Belanda untuk meminta maaf dan memberi ganti rugi. Nicole Immler mencoba melacak sejauh mana keputusan pengadilan tersebut berdampak di Balongsari. Dapatkah permintaan maaf resmi dan pemberian kompensasi tersebut, dengan segala peluang sekaligus keterbatasannya, dijadikan sebagai instrumen diakuinya ketidakadilan di masa lampau?

Artikel
18-02-2019

Pada tanggal 24 Januari, kelompok peneliti Saksi dan Rekan Sezaman, bekerja sama dengan Historisch Centrum Overijssel (Pusat Sejarah Provinsi Overijssel)/IJsselacademie (lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan regional provinsi Overijssel), mengadakan sebuah pertemuan berjaring. Pertemuan ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari wawancara yang dilakukan oleh sejarawan Belanda Ewout van der Horst, bersama lima belas orang veteran perang Belanda dari Overijssel, sebuah provinsi di timur Belanda. Hasil wawancara ini kemudian diterbitkan di sebuah situs internet yang dikelolanya. Berikut adalah laporan pertemuan tersebut yang ditulis oleh Stephanie Welvaart.

Artikel
31-03-2019
Mulai hari Senin, 1 April 2019, lima orang pakar internasional akan bergabung dengan lima sejarawan Belanda untuk membentuk sebuah kelompok tema penelitian Comparing the wars of decolonization: Extreme violence during reoccupation and counter-insurgency, 1945-1975 (Memperbandingkan perang-perang dekolonisasi: kekerasan ekstrem pada masa pendudukan kembali dan kontra-insurgensi, 1945-1975). Mereka akan bersama-sama melakukan kajian tentang penyebab, bentuk, dan sifat dari kekerasan (ekstrem) yang dilakukan oleh para serdadu Belanda yang berupaya untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial semasa berlangsungnya Perang Kemerdekaan (1945-1949).
Blog
05-02-2019

Pada hari Kamis, tanggal 31 Januari, telah diselenggarakan pertemuan antara peneliti dan pemimpin proyek penelitian Kemerdekaan, dekolonisasi, kekerasan, dan perang di Indonesia 1945-1950 dan perwakilan dari para penanda tangan surat terbuka di kantor NIOD di Amsterdam. Surat tersebut disusun oleh Jeffry Pondaag dan Francisca Pattipilohy pada bulan November 2017 dan berisikan keberatan terhadap proyek penelitian yang disebut di atas. Surat itu memuat sanggahan atas kemandirian proyek penelitian dan juga kritik terhadap tiga lembaga yang dianggap telah melakukan pendekatan penelitian secara sepihak. Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua setengah jam tersebut, keberatan-keberatan atas proyek penelitian tersebut diperbincangkan.

Berita