Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945-1950 merupakan program penelitian bersama tiga lembaga penelitian Belanda, yaitu Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV), Institut Belanda untuk Sejarah Militer (NIMH), dan Institut Belanda untuk Studi Perang, Holocaust, dan Genosida (NIOD). Baca lebih lanjut ›
10-03-2020

Program penelitian Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950 memahami pernyataan-pernyataan Raja Belanda. Kami menggangap pernyataan-pernyataan tersebut sebagai laku politik: artinya, pemerintah berhak untuk mengambil sikap politik dan moral dengan bergantung kepada pengetahuan yang tersedia. Oleh sebab itu, pacu dan arah program penelitian ini, yang hasilnya akan disajikan pada September 2021, sama sekali tidak akan terpengaruhi pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Raja.

Berita
03-03-2020

Pada 1 Maret 2020, sebuah artikel berbahasa Belanda dimuat dalam situs berita Nederlands Omroep Stichting (NOS).

Artikel
08-04-2020

Sejauh mana petaka Corona berdampak kepada para peneliti terlebih karena kini kantor arsip tutup, segala seminar dan konferensi di Belanda dan luar negeri dibatalkan? Pada blog berikut, Azarja Harmanny menggambarkan dampak masa bersejarah ini kepada kerja penelitiannya.

Blog
23-04-2020

Bagaimana para peneliti terdampak oleh wabah virus Corona yang telah mengakibatkan ditutupnya kantor-kantor arsip dan dibatalkanya beragam konferensi dan seminar baik di Belanda ataupun di luar negeri? Pada blog berikut, asisten peneliti Maarten van der Bent merekam dengan dampak masa krisis ini terhadap penelitiannya.

Blog
19-02-2020

Awal tahun ini Bauke Geersing, pengarang buku Kapitein Raymond Westerling en de Zuid-Celebes-affaire (1946-1947), yang terbit pada November 2019, mengirim sebuah surat terbuka kepada Direktur NIOD, Frank van Vree. Melalui surat tersebut, ia mengkritik isi situs web program penelitian Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945-1950, dan menuduh penelitian tersebut tidak dilakukan secara berimbang. Surat Terbuka Geersing (beserta lampirannya), serta tanggapan dari Direktur Niod, Frank van Vree, yang mewakili para peneliti pada program tersebut, dapat dibaca di bawah ini.
(Catatan: Surat dan tanggapannya ditulis dalam bahasa Belanda)

Berita
11-02-2020

Atas nama yayasan Maluku4Maluku, yang didirikan pada tahun 2018 untuk memperjuangkan kepentingan para mantan serdadu Maluku, Leo Reawaruw, ketua yayasan Maluku4Maluku, mengirimkan sebuah surat terbuka yang dialamatkan kepada program penelitian Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945-1950. Dalam surat itu, Leo Reawaruw menyampaikan keberatan atas tidak dimasukkannya yayasan Maluku4Maluku ke dalam Kelompok Pemerhati Sosial Social Resonance Group yang merupakan bagian dari program peneltian tersebut di atas. Surat terbuka Saudara Reawaruw serta tanggapan langsung dari perwakilan peneliti dapat dibaca di bawah ini.

Artikel